BLOG QURANGGENAHEPOOLZ











{11 Agustus 2008}   Berikan Aku Sepotong Surga
Filed under: Cerita Pendek — husnaamin @ 7:45 am

June 6, 2007

Kalau bisa memilih aku tak pernah mau jadi seperti sekarang ini, setiap kali keluar rumah pandangan mata tak ramah langsung menyerbuku, bisikan sinis hingga umpatan rasanya sudah puas ku dengar ditelinga. Aku rasanya tak bisa menghindar sejengkalpun dari serbuan pandangan sinis, hingga masuk ke rumah sendiripun pandangan itu jelas terlihat dari sorot dua orang pembantuku, bahkan jika aku pulang ke rumah ibupun tatapan ibu sepertinya tak lagi sesejuk dulu, di matanya kini lebih sering ku lihat air mata, dan air mata itu jelas tercurah untukku, seolah aku adalah pendosa besar yang memang patut menerima umpatan dari setiap mata yang berserumbuk denganku, aku merasa bagaikan asing disegala arah, bahkan sahabatku seakan memilah kata jika mencurahkan hatinya padaku, duniaku rasanya begitu sempit ,entah ke mana aku dapat tenang mematut diri dan melangkah tegak sehingga leherku tak perlu lagi dipijat karena pegal harus merunduk dimanapun berada, tadinya ku pikir akan mudah saja, tapi setelah ku jalani rasanya berat….dan aku hampir tak kuat…..

Untuk wanita sepertiku jelas tak harus ada kata menyesal. Jika pun itu kini ada di hatiku maka pada siapapun aku mengadu jawaban mereka pasti sama, ”sudah ku bilang dari dulu……”. Ibuku pun pasti menjawab sama dengan sahabat atau siapapun yang akan ku jadikan tempat mengadu. Jika tak ada sajadah ini yang menemani hari – hari ku, jika tak ada Allah tempatku mengadu, maka aku yakin jangankan satu minggu, satu hari pun predikat ini tak pernah mau aku sandang. Predikat yang akan dicap sebagai penghancur kedamaian orang, predikat yang sedetik pun tak pernah ku fikirkan sebelumnya bahkan dalam mimpi sekalipun. Terkadang aku sering bingung pada diriku sendiri tentang keputusan yang ku ambil tempo itu, berdasarkan nafsukah…? Atau nalar sehat dan imanku pada yang Maha Pencipta…? Hingga kini jawaban itu terkadang gamang… ku rasa keduanya… terlalu munafik jika ku pilih salah satu. Aku tak ingin hanya menyalahkan yang Maha Pencipta. Semua itu ku fikir dengan nalar dan hatiku dan disitu pun nafsuku berperan, nafsuku untuk merasakan sepotong surga dunia.

Pernikahanku dengan Faqih Malik memang tak mudah. Izin orang tuaku nyaris tak ku dapat. Mana ada seorang ayah mau menikahkan anaknya secara sirri dan jelas Faqih Malik beranak istri. Ayahku menolak jadi wali, maka pernikahanku digantikan wali hakim. Hanya ibu dan dua kakak wanitaku yang sedikit sibuk mempersiapkan sedikit hidangan, rumahku tak berhias seperti ketika kedua kakakku menikah. Bahkan nyaris sepi karena terlihat jelas ibu tak mau para tetangga tahu tentang pernikahanku. Tetapi bagaimanapun pernikahan haruslah diumumkan, maka nasi kotak dengan hidangan seadanya dipesan kakak tertuaku dari warung makan dekat rumahnya. Tak ada ucapan selamat berbahagia ketika ijab kabul selesai diucapkan, justru ledakan tangisan terdengar menyayat hati. Ibuku bahkan terlihat begitu lunglai, walaupun beliau berusaha tersenyum ke arahku. Sungkeman itu rasanya menusuk ulu hatiku, kakakku tak hantinya mengucapkan kata, ”Sing sabar….. sing sabar…..” suara itu lirih. Jika ku ingat hari itu rasanya saat itu aku telah membuat hati ibu luluh lantah, sebagai anak aku merasa sangat terpukul… ibu…

Selesai Ijab Kabul aku dan suamiku menuju rumah yang memang Mas Faqih sediakan untukku. Tak ada malam pertama seperti yang ku dengar dari bisik-bisik temanku, saat itu rasanya hatiku terbelah luluh lantah, bagaimana pun saat itu suasana batinku begitu galau. Aku merasa telah meninggalkan noda di muka ayah, ibu dan kedua kakakku. Jika bukan karena nasihat ustadzah di Mesjid, ibu jelas tak mau tahu tentang pernikahanku. “Poligami itu bukan dosa besar…… ibu tak perlu takut jika anak ibu akan jadi istri kedua, yang dosa besar itu jika berzina….”. Ustadzah itu menasehati ibuku. Ibu hanya menangis saat itu, ”Terimalah bu… mungkin ini sudah kehendak Allah…” suara Ustadzah itu seolah menohok batinku. Ibuku pulang dengan gontai saat itu. Sejak permintaan Mas Faqih untuk menikahiku pada Bapak, ibu, kedua kakakku seolah enggan menyapaku. Bapak hanya sesekali menasehatiku, ”Fikir matang-matang… kau lihat buruknya dulu jangan manisnya…. apa kata orang Via….?” Suara bapak seperti tersendat. Aku merasa dalam posisiku saat itu tak ada gunanya menerangkan yang menurutku prinsip. Malam pertamaku berlalu begitu saja, salah jika mereka menilaiku berbahagia di atas penderitaan kak Ratna, jelas akupun menderita…. mungkin sama menderitanya dengan Kak Ratna, istri tua Mas Faqih.

Suatu hari, pagi buta, suara bel terdengar nyaring, aku segera bangkit dari sajadahku. Aku baru selesai witir untuk tahajudku, aku bangkit. Ku lihat ada mobil mewah di seberang pagar rumahku. Aku kenal mobil itu, itu salah satu mobil Kak Ratna, hatiku berdegup kencang. Seorang wanita dengan jilbab putih keluar, aku segera menuju teras rumah. Pembantuku terlebih dulu membukakan pagar. Aku mengendap di rumahku sendiri. Wajah Kak Ratna sering ku pandangi karena ada di dompet Mas Faqih, tapi jika kini aku bertemu maka itu untuk yang pertama kalinya, aku kikuk pada diriku sendiri. Langkahku seolah terseret, berat sekali. ”Assalamualaikum….” suara itu meredam kesunyian pagi, ”Waalaikumussalam…” sahutku sambil tergopoh. Mataku dan Mata Kak Ratna saling bertubrukan ketika ku buka pintu rumahku. Senyum terurai dari bibirnya, aku bahkan tak sanggup membalasnya, ”Boleh aku masuk…?” suara itu begitu datar, aku hanya mengangguk. Ratna duduk di bangku yang menghadapku. Matanya jelas tertuju kearahku. ”Nama saya Ratnasari…….” suara itu begitu tenang, ”sehabis sholat malam barusan hati saya baru kuat untuk menuju kemari….. saya tak ingin lagi mendengar kata orang, Mas Faqih tak pernah mau cerita…. saya ingin kejujuran adik….” suara itu sangat matang. Aku mematung. Aku ingin sekali mengangkat leherku dan memandang wajah itu, tapi rasanya tak kuasa. ”Tolong beritahu saya…. apa rumor itu semua benar suamiku menikahimu..?”, suara itu akhirnya terdengar mengiba. Aku hanya mengangguk lemah, ”Boleh saya tahu kapan kalian menikah….?” suara itu kembali terdengar begitu datar. ”27 April….. sebulan yang lalu…” suaraku terdengar sangat lirih. Tiba – tiba ada tangan memegang bahuku, hangat rasanya. ”Namamu… Novianti… kan…. aku tak salah masuk rumah….., bukan… aku masuk rumah ko nggak permisi… maaf ya…” tangan itu seolah mencengkram bahuku. ”Maaf mengganggumu… pagi buta begini… aku harus cari waktu di mana ketiga anakku sedang terlelap…” suara itu terdengar sangat datar. ”Mulai hari ini kita bisa bekerjasama untuk saling menjaga Mas Faqih… tak usah sungkan jika ada yang harus ditanyakan…. ku rasa kita pun harus saling mengenal….” Suara itu tak terdengar sedikitpun galau. ”Mas Faqih ada di rumahku…. aku tak mau kalian sembunyi dariku….. anggap saja aku kakakmu…” suara itu menjauh. ”Oke Via… sampai ketemu ya… nanti aku bikin sedikit kenduri buat kalian…. ini kartu namaku, jika Mas Faqih sulit dihubungi, telpon aku saja….”. Ku lihat tangan itu menyimpan sebuah kartu nama di meja ruang tamuku, ”Aku takut jika anakku ada yang terbangun mencariku… aku harus pulang… maaf menganggumu…” suara itu menjauh, langkah terburu – buru terdengar. Aku mengikuti langkah itu, hingga suara itu, berlalu batang leherku tak bisa terangkat. Saat aku mengangkat leherku, kini giliran kedua pembantuku seolah menghakimiku, aku segera berlari menuju kamarku, aku menangis…….. sejadi-jadinya.

Esok paginya ingin sekali mengabari Mas Faqih tentang kedatangan Kak Ratna, tapi entah kenapa aku begitu enggan. Ini hari Kak Ratna, aku tak mau mengganggunya, apalagi sikap Kak Ratna tadi sangat sopan, tak seperti yang ku lihat di film – film. Jika istri pertama datang ke rumah istri kedua suaminya, penuh umpatan dan caci maki. Kak Ratna bersikap begitu sopan, hingga aku tak mengerti apa yang saat itu berkecamuk di hatinya. Aku sendiri meraba hati apa aku akan setenang Kak Ratna jika aku dalam posisinya……… Suara handphone mengangetkanku, Mas Faqih.. ”Via… Ratna ke rumahmu… ya…?” suara Mas Faqih terdengar berbisik, ”Iya…” jawabku. ”Kalian berkenalan… kan….” pertanyaan itu mengusik batinku. ”Kak Ratna baik-baik saja kan…?” aku balik bertanya, ”Ratna baik, kami sedang makan di restoran favorit Ratna bersama anak-anak….. nanti ku telpon lagi ya…. mau ku bawakan kau makanan…?” suara itu seolah tak merasakan kegalauanku. ”Terimakasih Mas…. aku sudah masak…” jawabku. Telpon pun ditutup. Pikiranku menerawang, mereka terdengar menerima keadaan ini dengan sangat biasa, lain denganku yang merasa sangat galau. Hariku bersama Mas Faqih adalah hari Kamis , Jum’at dan sepotong Sabtu. Maka ketika sebuah Mercy parkir di depan rumah ku sepulangku bekerja, aku yakin itu adalah Mas Faqih. Langkahku agak memburu, ada banyak pertanyaan untuknya saat itu, terutama tentang Kak Ratna. Tapi langkahku terhenti ketika ku lihat yang duduk di ruang tamuku adalah seorang wanita cantik berjilbab biru, Kak Ratna. ”Assalamualaikum…” aku masuk dengan hati yang belum tertata, kali ini ku lihat jelas wajah itu, putih bersih, berhidung mancung dengan bibir yang tipis walaupun guratan tua mulai tampak tapi untuk wanita di atas 40 tahun wajah Kak Ratna terlihat muda. ”Waalaikumussalam… maaf aku masuk…. Mas Faqih ada di kamar, aku hanya mengantar…. sekalian ingin memberitahumu, lusa Mas Faqih harus ke Amerika, tolong kau yang siapkan peralatannya ya… mungkin beliau akan langsung ke bandara dari sini, oh iya beliau suka dibikinkan serundeng, kau bisa kan buatnya…. kalau tak bisa telpon aku saja, nanti biar supir yang bawakan itu kesini…” suara itu begitu tenang. ”Aku pulang ya.. Via…. Assalamualaikum…” ada tepukan ringan di bahuku, sebelum Kak Ratna pergi, hatiku jelas semakin kacau. Aku segera menuju kamar, Mas Faqih sedang tertidup pulas, ”Mas…. Mas… tolong bangunlah…. aku mau bicara…” aku mengguncang bahunya, Mas Faqih terbangun wajahnya terlihat mengantuk, ”Mas cerita dong bagaimana komentar Kak Ratna tentang ini semua…” rajukku, “Oh itu alasannya kau bangunkan aku..” Mas Faqih membenarkan letak duduknya. ”Ratna ….. sampai sekarang 20 tahun aku menikahinya, aku tak pernah dapat menebak saat dia senang, susah. Dia sangat bisa menyimpan segalanya…. Ratna terlihat begitu datar…. terkadang aku bingung apa dia mencintaiku…?” suara Mas Faqih seolah bertanya pada dirinya sendiri. ”Semenjak menikah dengannya…. aku merasa sangat lengkap, Ratna begitu telaten terhadapku, anak-anak, rumah, tapi ada yang kurang padanya…. dia wanita tanpa keluhan… sikapnya begitu biasa bahkan aku tak bisa menebak saat dia marah, Ratna terlalu santun bagiku. Aku seperti menikahi seorang dewi…. itu kalau kau mau tahu tentang Ratna….” Mas Faqih seolah menerawang. “Berbeda denganmu yang sangat penuh ketergesaan…. Ratna begitu terencana, segalanya penuh pertimbangan, untuk urusan bisnis aku merasa Ratna lebih faham daripada aku… Ratna terlalu membuat aku merasa tak berarti……” Mas Faqih memandangku, ”Bahkan ketika ku tanya, bolehkah aku beristri lagi…? jawabannya sangat ringan…. dia bilang asalkan wanita itu solehah dan mengerti agama… dia yakin kehidupan poligami bukan neraka….” Mas Faqih menghirup nafas dalam-dalam.”Dia bahkan tak terlihat sedikitpun memperlihatkan keenganannya aku beristri lagi, kata-katanya begitu datar, raut wajahnya tak berubah…. aku merasa dia terlalu dingin…” Mas Faqih terdiam sebentar. “Di kantor dia sepertinya lebih didengar oleh karyawan…. tapi aku merasa Ratna memang berbeda, dia punya sejuta pesona yang tak dimiliki wanita manapun…. pesonanya seperti magnet…. kita tak bisa lepas darinya, dia bukan seperti wanita kebanyakan….” Mas Faqih tersenyum kearahku. Pujian – pujian Mas Faqih pada Kak Ratna seolah menyayat hatiku. “Padamu…. ku temukan pesona lain….” Suara itu terdengar lembut. ”Kalau pada diri Kak Ratna sudah Mas temukan segalanya… kenapa Mas menikahiku..?” suaraku tersekat. ”Karena Ratna takkan pernah bertanya seperti itu padaku…, poligami menurutnya bukan dosa, maka tak perlu dilarang…” Mas Faqih terdengar agak galau. ”Sudahlah…. aku tahu Ratna… kau tak perlu risau… dia wanita yang paling bisa meredam emosi….. dan mungkin karena dalam keluarganya Poligami bukan hal tabu, makanya dia biasa saja…. Ayah Ratna pun berpoligami…. sehingga baginya masalah kita ini bukan hal yang cukup besar…” Mas Faqih kembali menatapku. ”Mas… kau dan aku beruntung karena kita memiliki Kak Ratna…. dia begitu baik….” Kataku sambil memegang tangan Mas Faqih.

Menginjak lima tahun pernikahanku dengan Mas Faqih tak juga ada tanda – tanda kehamilan padaku. Segala ramuan telah kuminum, beberapa dokter spesialis kandungan telah kudatangi, hasilnya masih negatif. Rasanya dalam keadaan seperti ini ingin sekali bersikap seperti Kak Ratna. Berfikir tenang. Tapi aku selalu tak bisa. “Sudahlah… Via… tak perlu repot sekali…. kau sehat, aku sehat… mungkin Allah belum kasih…” itu jawaban Mas Faqih setiap aku mengeluh. ”Mas… tahun depan usiaku 37, mas sudah 50 aku takut… aku juga ingin seperti Kak Ratna punya anak…” rajukku. Mas Faqih biasanya cuma menjawab dengan singkat, “berdo’a Via…” semua itu ada yang mengatur. Kadang aku menjadi terlampau cemburu jika Mas Faqih membicarakan tentang ketiga anaknya dengan hasil perkawinannya dengan Kak Ratna. Aku merasa tak ada bandingannya dengan Kak Ratna, seolah dialah wanita sempurna yang dapat memberikan keturunan buat Mas Faqih. Aku merasa kecil jika harus bertanding dalam masalah ini. Aku takut… takut jika Mas Faqih meninggalkanku…

“Via…. minggu depan ketiga anakku libur semester, kami berencana menghabiskan masa liburan di Mesir…. sekalian berumroh….. kau tak keberatan kan jika 2 minggu kedepan aku tak menemanimu…? “ Mas faqih menatapku, hatiku saat itu jelas berontak, 2 minggu……? Selama itu… Kak Ratna memiliki Mas Faqih…..? tapi segera ku redam gejolak itu, aku hanya menangguk lemah. ”Aku sudah berjanji sebelum Fatimah masuk perguruan tinggi ketiganya harus berumrah…. kau mengerti kan….?” Mas Faqih menerangkan. Aku kembali mengangguk. Seingatku hari untukku kini tak lagi seperti dulu, kadang Mas Faqih hanya semalam paginya sudah kembali ke rumah Kak Ratna, katanya Fatimah sudah agak dewasa pengawasan untuk anak tertuanya itu harus agak ketat, apalagi akhir – akhir ini ada teman lelakinya yang sering menelpon, kelihatannya Mas Faqih begitu khawatir. Maka sejak itu setiap Malam minggu Mas Faqih berada di rumah Kak Ratna, bermalam hanya malam selasa di rumahku, ingin rasanya aku protes. Rasanya hakku sedikit terabaikan, tapi melihat keramahan yang selalu Kak Ratna berikan untukku rasanya aku merasa begitu egois jika harus protes.

Aku agak kaget ketika sepulang bekerja suasana rumahku sedikit ramai. Aku menerobos masuk. Ku lihat kerumunan di depan rumahku. Aku bergegas. Tak satupun dari kerumunan itu aku kenal. ”Maaf…. ini Mbak Novianti….?” Seorang lelaki berbadan tegap menghampiriku, ”Iya…. saya sendiri…” aku mengangguk, ”Saya Rahman, pengacara Bu Ratna dan Pak Faqih…. ada yang mau saya bicarakan….” Suara itu agak tertekan, ”Ada apa ya…. silahkan masuk…..” kataku sambil mempersilahkan duduk kerumunan itu. ”Maaf tapi mereka siapa ya…?” tanyaku. “Mereka pengawal Pak Faqih….” Orang bernama Rahman menjawab, aku baru tahu jika Mas Faqih punya pengawal sebanyak ini. ”Maaf saya cuma mau tahu apa benar telah terjadi pernikahan diantara Pak Faqih Malik dan anda…?” lelaki itu seperti tak percaya. “Suratnya ada bu…?” Lelaki itu sepertinya menatapku begitu tajam. “Kalau maksud Bapak surat resmi, kami tidak punya, saya dan Mas Faqih menikah secara agama, tapi secara hukum agama kami sah…” jawabku. Tiba – tiba saja para lelaki yang diperkenalkan sebagai pengawal Mas Faqih berebut pertanyaan untukku setelah itu kamera video, kamera digital dan sejenisnya sibuk mengabadikanku, aku bingung sendiri, aku segera bergegas.

Maka jika ada orang yang merasa bodoh, itulah aku, besoknya tabloid dan segala yang namanya koran memuat fotoku, dan entah apa benar aku bicara seperti itu, koran-koran itu memuat headline yang jelas membuat aku terperangah. Telpon rumah tak hentinya berdering, aku enggan ke luar rumah, kerumunan wartawan semakin banyak, aku sangat takut. Sebuah tabloid ibu kota memberitakan hal yang tak pernah aku bayangkan, “Faqih Malik serumah tanpa Nikah…”. Headline itu jelas membuat aku bingung, aku merasa tak pernah mengatakan itu, tapi jika ku lihat berita di infotainment sepertinya aku yang mengatakan itu. Aku merasa telah menghancurkan nama Mas Faqih, aku tahu sekarang ini Mas Faqih memang terjun ke dunia politik, dan masalah poligami dan sebagainya sedang begitu hangat diperbincangkan, maka Mas Faqih menjadi sasaran empuk berita tentang Poligami.

Dalam keadaan seperti ini aku bingung pada siapa untuk mengadu. Layakkah aku pulang ke rumah ibu, di sana suasana pasti lebih panas, apalagi ketika telpon ibu kemarin ku terima, terdengar sekali suaranya begitu galau, aku tahu ibu dan kedua kakakku pasti senang saja aku pulang. Tetapi jika para tetangga tahu aku di sana, rumah ibu pasti lebih ramai dari sekarang, para wartawan itu sepertinya tak hanya mengejarku, tapi juga semua orang yang dekat denganku, bahkan ibuku pun sampai tak berani keluar rumah. Suasana rumah ibu dapat ku lihat dari televisi, penuh sesak dengan wartawan yang ingin mendengar langsung mengenai aku dan Mas Faqih dari keluargaku. Aku merasa begitu menjadi anak yang sangat tidak berbakti, aku telah membuat ibu malu, apalagi berita yang beredar sudah tak lagi ku tahu hendak mengarah kemana. Aku bingung setengah mati kenapa keadaan menjadi sangat tak terkendali.

“Bu…. telpon dari Bu Ratna….” Inah pembantuku mengangetkanku. Aku bangkit dan segera menuju telpon, sejak kejadian ini, inilah telpon pertama dari Mas Faqih dan Kak Ratna. ”Ada apa ini Novi….. berita yang ku dengar rasanya tak enak ditelinga kami….?” suara Kak Ratna agak meninggi. ”Maaf Kak, aku juga kurang tahu, tapi semua berita itu mengalir tak terkendali…..” sahutku cemas. ”Mas Faqih masuk rumah sakit di Kairo….. berita itu mengangetkannya…… ini tak seperti yang dia inginkan…. harusnya kau keluar dan ceritakan cerita sebenarnya, jangan diam…., suara itu agak marah. ”Tapi Mas Faqih baik-baik saja kan….?” Tanyaku, suara kak Ratna terlihat terisak, “Berdo’alah.. Novi….” Suara itu tersekat. ”Maaf Kak…. aku juga tak mengerti kenapa beritanya jadi begini. Telpon pun ditutup. Aku bingung sekali. Aku hanya bisa menangis. Berulangkali mencoba menghubungi Mas Faqih dan keluarga di Kairo tak pernah berhasil, justru berita tentang masuknya Mas Faqih ke rumah sakit di Kairo lebih lengkap aku lihat dari televisi, semua itu membuatku semakin kacau, aku merasa jika sesuatu terjadi pada Mas Faqih maka aku lah yang paling bertanggung jawab akan semua itu. Aku menangis. Jika dulu aku fikir dengan menikahi Mas Faqih mungkin akan ada sedikit kedamaian dalam hatiku yang seringkali gundah karena tak ada tempat untuk saling berbagi, tapi justru keadaan yang ku terima tak semudah yang ku bayangkan. Sepotong surga yang ku harapkan itu rasanya jauh dari angan. Padahal Kak Ratna yang menurut berita di koran tersakiti tak pernah sekalipun menghardikku seperti yang kini dilakukan oleh setiap mata yang memandangku. Aku, kak Ratna, Mas Faqih dan anak – anaknya tak pernah merasakan apa yang dikatakan oleh koran atau pun media yang kini seolah lebih tahu tentang kehidupan kami. Mereka nenelusuk masuk ke ruang yang tak pernah ku bayangkan. Mengobrak – abrik semua rasa yang dulu ingin ku simpan rapat, kini entah kemana harus berlari pun aku tak tahu. Aku sedih membayangkan ibu yang selalu dikejar wartawan, aku sedih… adakah yang tahu bahwa aku juga manusia yang punya hati dan juga perasaan…?!!!

Selesai membaca do’a setelah sholat malamku, hatiku agak sedikit tertata, ada sedikit keyakinan menyeruak dihatiku, aku ingin mengakhiri semua ini, aku merasa telah mencoreng nama Mas Faqih. Tapi tentu saja aku tak ingin gegabah, aku ingin semua ini ku bicarakan dengan kepala dingin dan tentu saja ingin ku bicarakan bersama, Kak Ratna dan Mas Faqih.

Ibu menelponku berulang kali, mengingatkanku agar lebih bersabar, beliau tadinya bersikeras menemaniku di rumah ini, tapi aku tak mau ibu lebih jelas melihat kesedihanku, yang tiap waktu harus berurai air mata. “Via baik-baik saja kok Bu…. jangan khawatir… ibu berdo’a saja ya…” kataku. ”Ibu jaga Bapak saja…. Via….. insya Allah bisa jaga diri….. Maafkan Via Bu…” kata terakhirku itu tersekat, aku tak ingin ibu tahu bahwa aku sedang menangis. “Bu… barusan ada Pak Imam dari kantor… Bapak pulang hari ini…” Inah berbisik ke arahku dengan wajah tertunduk. Mungkin hanya mata orang – orang di dekat kami yang kini mulai bersahabat. Dulu Inah dan Sri pembantuku pun punya pandangan yang sama dengan wanita lain diluar sana, tapi kini pandangan mereka mulai meredup. Mungkin karena mereka tahu bagaimana kami membangun semua ini, kami membangun tanpa kebencian. Kak Ratna dan aku saling menopang, aku tak ingin ada istilah berbagi suami, karena bagiku Mas Faqih tak bisa terbagi. Justru kamilah yang berbagi tugas, dan semua itu kami lakukan hanya atas dasar cinta yang hakiki pada yang Maha Satu… Allah. Aku yakin bagaimana sikap Kak Ratna yang begitu lembut semua itu karena Kak Ratna pun seperti aku, di dunia ini yang hakiki hanya cinta pada yang maha mencintai… Yaitu kepada Allah SWT. Arti cinta dan mencintai mungkin sudah tak bisa lagi dianggap mudah hari ini, apakah berarti Mas Faqih tak lagi mencintai Kak Ratna karena menikahiku, jelas terlihat tidak. Bagaimana aku masih merasakan Mas Faqih begitu memperhatikan Kak Ratna, apalagi pada ketiga anaknya tak ada sedikit pun aku merasa ingin agar saat bersamaku Mas Faqih tak memikirkan mereka, karena akupun ingin saat Mas Faqih bersama mereka, Mas Faqih pun tetap memikirkanku, karena seperti kata Kak Ratna, kini dalam keluarga besar Faqih Malik. Ada aku, Novianti Kartika, istri keduanya. Susah senangnya keluarga Faqih Malik kami semua harus merasakannya. Aku yakin ada rasa perih di hati Kak Ratna karena akupun merasakannya, tapi keperihan itu tak seperih saat ini, ketika semua orang memandangku sebagai pendosa. Tapi keperihanku tak harus ku obral di media massa, begitu pula dengan kepedihan Kak Ratna. Salahkah jika keperihan itu kami anggap sebagai penambah pahala, walaupun setelah kami jalani dengan beriringnya waktu, kepedihan itu lambat laun memudar, mungkin karena aku dan Kak Ratna mengerti porsi dan tugas masing-masing, kami tak ingin membagi Mas Faqih dengan jeda waktu, kami hanya ingin beribadah dan ibadah kami salah satunya berbakti pada suami, dan keputusan Mas Faqih untuk menikah lagi bukan dosa besar yang harus dihujat dan dicemooh… tapi bagaimana pun pendapatku saat ini siapa yang hendak membela, karena predikatku adalah perusak rumah tangga, tapi rumah tangga siapa yang ku rusak ?, Mas Faqih dan Kak Ratna juga ketiga anaknya sampai saat ini masih baik-baik saja, justru merekalah yang kini membuat rumah tangga yang ku coba bangun hampir punah, karena aku merasa lebih baik mundur, karena sepotong surga yang ku harapkan itu sepertinya susah ku dapat…

Suara ketukan pintu terdengar, aku bangkit dari sajadahku. ”Bu… Bapak dan Bu Ratna menuju kemari, Pak Burhan baru saja menelpon, dari Bandara langsung kemari, katanya jam 19.00 nanti malam mau ada konferensi pers… mohon ibu bersiap…”. Sri pembantuku berbisik kepadaku, ”sabar ya bu… maafkan saya bu…”. Sri seolah menahan tangisnya, ”Terimakasih Sri… tolong dipersiapkan untuk kedatangan Bapak dan Ibu ya… tolong kalau sudah datang langsung beritahu saya…” kataku. Sri hanya mengangguk kemudian pergi. Hatiku sedikit tenang dengan kabar itu, aku berharap kabar tak sedap ini segera berakhir.

Suara mobil berdatangan menambah keriuhan di teras rumahku, itu pasti Mas Faqih dan Keluarga yang datang, aku segera bergegas menyambut mereka. Satu persatu anak buah Mas Faqih datang, kemudian anak – anak yang langsung memelukku dengan tangisnya yang pecah, kemudian datang Kak Ratna dengan wajahnya yang tetap tenang, terakhir ku lihat wajah Mas Faqih yang terlihat agak pucat. Kak Ratna membimbing kami menuju kamarku. Aku duduk bersama ketiga anak Mas Faqih dan Kak Ratna. Wajah tegang mulai terlihat dari Wajah Kak Ratna begitu pula dengan Mas Faqih. “Maafkan kami Via… jika kami tak memberi kabar kedatangan kami… semuanya tak seperti yang direncanakan…” Kak Ratna memecah hening. Aku menangis. ”Mama Via jangan menangis….” Fatimah menatapku. Aku menahan agar tak setetes pun lagi air mataku keluar. ”Ini masalah kita, kita harus pecahkan bersama…” suara Kak Ratna melemah, ”Maaf Kak… jika saya salah… tapi memang sayalah yang bersalah… saya telah menghancurkan nama baik Mas Faqih…” Kataku. Suasana hening. “Begini Via… jam 19.00 nanti kita akan konferensi pers. Pengacara Mas Faqih Pak Amirullah telah menyiapkan butir – butir pernyataan yang akan kita sampaikan nanti, mohon saat acara nanti tak ada lagi air mata yang keluar, kau harus belajar menata hati, kini kau pun istri Mas Faqih… kau tahu… dunia ini kejam untuk orang yang lemah, jika kau menangis mereka akan lebih membuatmu berdarah…” Suara Kak Ratna terdengar tegas, aku mengangguk. ”Dengar Via… tak ada yang salah dalam hal ini, apakah Mas Faqih melanggar hukum…? Tidak bukan…? dunia pandai bersilat lidah tapi kita jangan tertipu…” Kak Ratna menatapku. “Via justru kami yang ingin minta maaf, karena kau menikahi Mas Faqih maka air matamu harus keluar karena sumpah serapah orang yang tak mengerti keadaan sebenarnya…” Kak Ratna memelukku. Aku merasa begitu damai. Suara ketukan pintu terdengar, rupanya pengacara yang datang. Pak Amirullah menjelaskan setiap butir pernyataan yang akan dibacakannya pada konferensi pers nanti.

“Maaf pak boleh saya menyela…?” Aku memberanikan diri. “Semua masalah ini disebabkan oleh saya, boleh jika saya ikut mengambil keputusan…?” saat itu suaraku mulai tertata. ”Maafkan saya Mas Faqih, Kak Ratna, anak – anak, karena sayalah semua masalah ini datang, dan saya ingin mengakhirinya, saya rasa ilmu saya belum cukup jika harus menghadapi semua ini, maaf kan saya, tapi keputusan itu sudah saya fikirkan secara matang, mohon dipertimbangkan…”. Kali ini suaraku yang keluar begitu tertata. Aku tak sanggup mengangkat kepalaku. Aku tak ingin melihat raut wajah Mas Faqih, Kak Ratna dan ketiga anaknya. ”Via, jangan kalah oleh keadaan…”, Suara Kak Ratna mendekatiku. Tangannya memegang pundakku. “Maaf Kak, saya memang kalah, karena saya tidak seperti Kakak, ilmu saya masih jauh, saya masih memakai perasaan saya, maaf…”, Suaraku tersedak. ”Begini Via, kalau pun kau minta cerai, ini semua perlu proses bukan…?”, suara Kak Ratna melemah, aku mengangguk. “Paling tidak tegarlah untuk malam ini…” pinta Kak Ratna. “Maafkan saya Kak, saya mundur…” kataku dengan tangis. Suara berbisik kudengar, setelah itu terdengar suara langkah kaki meninggalkan kamarku. “Via..”, suara Mas Faqih terdengar agak tersedat. Aku tak berani mengangkat wajahku. ”Jika maumu memang bercerai, aku tak bisa menahanmu, aku memang banyak menyusahkanmu, tapi tolong difikirkan lagi…”, suara Mas Faqih terbata. Tapi entah kenapa hatiku saat itu rasanya begitu bulat. ”Maaf Mas, ini sudah final, maafkan saya Mas, maaf…”, kali ini aku berhasil menahan tangisku. “Mohon jika harus ada berkas yang ditandatangani, Mas tahu kemana harus mencari saya, saya ingin sekali pulang malam ini, saya bertahan di sini menunggu Mas pulang. Kewajiban saya menunggu Mas, kini Mas sudah pulang, maafkan saya, tapi ini terlalu berat bagi saya.. maaf….” aku tak sempat lagi mengangkat wajahku untuk melihat wajah Mas Faqih, aku langsung menuju pintu, aku ingin pergi saat itu juga.

Kak Ratna menahanku, “Via… jika ingin pergi, tak begini…, maaf, tapi kita bisa bicarakan baik-baik…” Kak Ratna membimbingku. Aku tergugu di pundaknya, damai. Kak Ratna membimbingku entah kemana, rupanya kamar kerja Mas Faqih. “Minumlah….” Kak Ratna menyodorkan segelas air mineral untukku, ku teguk hingga habis. “Sabar Via, kita adalah dua orang wanita yang saat ini harusnya berada di belakang Mas Faqih, tunjukan bahwa kita kuat di hadapan mereka, jika kau mundur, berarti kau merasa bahwa yang dikatakan mereka benar…” suara Kak Ratna lirih. “Maaf Kak, tapi ini semua sudah cukup untuk saya, saya mundur…, maaf, maafkan saya…”. Aku menangis lagi. ”Aku tak bisa memaksamu, jika itu keputusanmu, kau pasti sudah fikirkan dengan matang bukan…?”, Kak Ratna memegang pundakku. “Semoga kau lebih bahagia diluar sana Via…”, Kak Ratna memelukku. Aku tergugu dipundaknya.

Konferensi pers berlangsung tanpa aku, yang ku tahu hanya pengacara Mas Faqih saja yang hadir, dengan satu pernyataan, bahwa aku dan Mas Faqih telah resmi bercerai, untuk waktu dan tempat pengacara tidak mengatakan, karena perceraian itu memang baru saja terjadi. Mas Faqih dan Kak Ratna menghadiahiku sebuah rumah dan mobil di pinggiran kota Jakarta. Enggan betul aku menerimanya.Tapi Kak Ratna memaksaku, ”Ini dariku Via untukmu…, aku tahu kau mampu beli sendiri, tapi ini dariku bukan dari Mas Faqih, kabari aku tentang keadaanmu…”, Kak Ratna memelukku untuk terakhir kalinya, hingga akhir malam itu wajah Mas Faqih tak lagi ku lihat. Rumah dan Mobil itu ku jual. Aku memutuskan untuk mengambil kuliah S-3 ku di Belanda, aku ingin mengambil gelar doktoral, karena setelah kejadian itu di Indonesia tak ada lagi tempat bagiku untuk mengangkat kepala dengan tegak semua mata seolah menatapku sinis. Aku kembali memcari sepotong surga itu…

Iklan


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: