BLOG QURANGGENAHEPOOLZ











{19 Juli 2008}   PANCHATANTRA

Dahulu kala di selatan India, ada kota bernama Mahilaropyam*.seorang raja bernama Amarsakti* tinggal di sana. Dia sangat terpelajar dan berbakat dalam berbagai kesenian dan keahlian.

Raja itu mempunyai tiga orang putra bernama Bahusakti*, Ygrasakti*, dan Anantasakti*. Ketiganya amat bodoh dan tak berminat untuk belajar. Mengetahui hal itu, raja mengumpulkan materi-materinya lalu berkata, “Saudara-saudara, kalian sudah mengeyahui kebodohan putera-puteraku. Mereka tak memiliki pengetahuan apapun. Karena itu, melihat ulah mereka, saya tak bisa menikmati kerajaan ini.” Seperti kata orang “

Anak yang belum lahir, yang sudah mati, dan yang bodoh.

Dua yang pertama lebih baik,

Karena hanya menyebabkan kesedihan satu kali.

Sedangkan anak-anak yang bodoh, adalah siksaan sampai akhir hayat. Dan apa manfaat seekor sapi, yang tidak memberi baik anak maupun susu?

Dan apa manfaat seorang anak laki-laki, yang tidak berbijak dan berbakti?

“Oleh karena itu, tunjukanlah cara lain agar putera-puteraku bisa mendapat naluri untuk mengetahui yang benar.”

Salah seorang menterinya menjawab, “Yang mulia ! dua belas tahun hanya dipakai untuk mempelajari tata bahasa sendiri, kemudian ilmu pengetahuan yang dibutuhkan seperti ekonomi, agama, dan seksologi begitu luas sehingga memburuhkan waktu amat banyak untuk menguasainya. Hanya demikian kecerdasan bisa berkembang.”

Tetapi seorang mentri bernama Sumati berkata, “Hidup kita tidak kekal dan ilmu pengetahuan akan memakan waktu yang terlalu lama untuk menguasainya. Kerena itulah kita harus mencari cara yang lebih singkat untuk memberikan pengetahuan kepada putera-putera anda. Saya mengenal seorang Brahmin* bernama Wisnu Sarma* yang ahli dalam semua ilmu pengetahuan. Dia telah mendapat penghargaan dari murid-muridnya yang tak terhitung junlahnya. (Jadi) saya menganjurkan agar putera-putera anda diserahkan saja kepadanya. Dia pasti akan mengajar meraka dengan baik.

Setelah mendegar nasehatnya, raja mengundang Wisnu Sarma ke istananya dan berkata kepadanya, “Begawan*, (tolong) ajarkanlah kepada putera-puteraku nitisastra dalam waktu singkat dan saya akan berterima kasih kepada anda. Saya akan (menghadiahkan) kepada anda seratus kampung tanpa pajak.”

“Yang mulia, tolong dengarkanlah perkataan saya. Percayalah saya tak ingin menjual kepandaian saya karena ketamakan kepada uang. Jika putera-putera anda belum memahami nitisastra dalam waktu enam bulan, saya siap mempertaruhkan namabaik saya. Dengarkanlah bahwa saya tidak menginginkan kekayaan. Usia saya mendekati delapan puluh tahun, dan saya telah menguasai semua keinginan saya. Sekarang, catatlah tanggal hari ini. Kalau saya belum berhasil mendidik putera-putera anda dalam hal nitisastra selama enam bulan, maka saya tak berhak masuk surge.” Jawab Wisnu Sarma kepada raja.

Raja dan menteri-menteri terkejut, tetapi senang mendengar pernyataan yang kelihatanya mustahil itu. Dengan berterima kasih dan hormat, raja kemudian menyerahkan putera-puteranya kepada Brahmin dengan perasaan lega.

Setelah Wisnu Sarma membawa putera-putera raja menuju (ke) asramanya, dia mulai menyebut satu persatu cerita-cerita yang khusus di karangnya yang terbagi dalam lima tantra*.

1. Perselisihan diantara teman

2. Kemenangan teman-teman

3. Burung gagak dan burung hantu

4. Kehilangan keuntungan

5. Bertindak tanpa pertimbangan

Maka mereka berkata :

Seseorang yang telah mempelajari nitisastra ini, atau telah mengetahui ajaran-ajaranya, tak akan pernah dikalahkan, bahkan oleh Indra*, Dewa Surga.

oleh G.L. Chandiramani

Iklan


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: