BLOG QURANGGENAHEPOOLZ











Di dekat pegunungan disebelah utara, di sebuah pohon ara di tepi sungai Amravati hidup sepasang burung bangau.

Di sebuah lubang di kaki pohon, hidup seekor ular hitam. Dia suka menggelincir ke atas pohon dan memakan anak-anak burung bangau.

Suatu kali, pada waktu burung bangau betina meratap karena kehilangan anak-anaknya, burung bangau yang lain yang tinggal di sebuah pohon dekat sana menyarankan, “Lakukan seperti yang saya katakan.

Taburkan beberapa potongan ikan kecil dari lubang luwak ke lubang ular hitam itu. Luwak sangat rakus dengan ikan. Ketika sedang mengikuti jejak untuk makan ikan, luwak pasti akan sampai pada lubang itu.

Dan ketika dia melihat musuhnya si ular hitam, dia pasti akan membunuhnya.”

Seperti yang sudah diramalkan, luwak mengikuti jejak ikan, dan dengan kebetulan melihat ular tersebut lalu membunuhnya.

Bagaimanapun, luwak juga mendengar teriakan anak-anak bangau yang baru lahir. Dia cepat-cepat dengan susah payah menaiki pohon dan memakan mereka semua.

Burung bangau yang berdekatan merasa sedih dan merasa bersalah karena memberi petunjuk tanpa berpikir matang. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Kalau orang berpikir tentang sebuah rencana, seharusnya dia juga berpikir tentang akibatnya.”

oleh G.L. Chandiramani



Dahulu kala, hidup tiga ekor ikan di sebuah kolam.

Pada suatu hari, beberapa nelayan melewati kolam itu. Mereka saling berkata, “Kita akan datang ke sini besok pagi dan menangkap semua ikan.”

Pada waktu mendengar hal ini, salah seekor ikan berkata, “Saya akan segera pergi ke kolam lain dan berenang dari sana melalui sebuah terusan ke kolam yang lain.”

Ikan yang lain berkata, “Bagaimana saya tahu apa yang akan terjadi besok? Kalau saya melihat bahaya, saya akan menghadapinya.”

“Kenapa harus repot!” kata ikan yang ketiga. “Apa yang akan terjadi terjadilah.”

Pagi berikutnya, nelayan-nelayan sampai di sana dan melempar jala mereka.

Ikan kedua tertangkap di jala itu dan berpura-pura seakan-akan sudah mati.

Pada waktu dia baru diambil dari jala, dia mengumpul semua kekuatannya dan melompat kembali ke dalam air dan berenang ke tempat yang aman.

Ikan ketiga tertangkap di jala ini dan dibunuh oleh nelayan-nelayan.

Ketika para nelayan sudah pergi , ikan kedua yang selamat, walau sedih tentang temannya, merasa bahagia untuk hidup dan berpikir, “Adalah kesalahan yang besar untuk menyerahkan masalah kepada nasib. Pada tanda bahaya yang pertama, seorang harus bertindak cepat-cepat.”

oleh G.L. Chandiramani



Dahulu kala, di suatu danau di kota Magdha, hidup seekor kura-kura. Dua ekor angsa undan juga hidup di dekat sana. Mereka bertiga adalah teman yang sangat akrab.

Pada suatu hari, beberapa nelayan tiba di sana dan berkata, “Kita akan datang ke sini besok pagi dan menangkap ikan dan kura-kura.”

Pada waktu kura-kura mendengarnya, dia berkata kepada angsa-angsa undan, ” Apakah kalian dengar apa yang dikatakan nelayan-nelayan tadi. Apa yang akan kita lakukan sekarang?’

“Kami akan melakukan apa yang terbaik”. “Saya sudah pernah melewati waktu yang sangat mengerikan dahulu”, kata kura-kura. “Jadi bisakah engkau membantu saya pergi hari ini ke danau yang lain?”

“Tapi itu tidak aman untuk kamu dengan merangkak ke danau yang lain”, kata angsa-angsa undan.

“Baik, kamu bisa mengangkat saya ke sana dengan menumpang dua di antara kamu” jawab kura-kura sambil merasa bahagia sekali dengan dirinya sendiri.

“Bagaimana kita bisa melakukannya?” Tanya angsa-angsa undan.

“Masing-masing bisa memegang ujung kayu di paruhmu sementara saya memegang kayu tengahnya di mulutku. Kemudian jika kamu terbang, saya bisa ikut dengan kamu”, kata kura-kura.

“Rencana yang bagus sekali”, kata angsa-angsa undan. “Tapi ini juga sangat berbahaya karena kalau kamu membuka mulutmu untuk bicara, kamu akan terjatuh.”

“Apakah kamu mengira saya begitu bodoh?” Tanya kura-kura.

Kemudian pada waktu angsa-angsa undan itu terbang sambil mengangkat temannya si kura-kura di kayu, mereka terlihat oleh beberapa orang penggembala sapi yang berada di bawah.

Karena terkejut, para penggembala itu berkata, “Sesuatu yang aneh, lihatlah! Angsa-angsa undan sedang membawa kura-kura ke suatu tempat.”

“Wah, kalau kura-kura itu jatuh kita akan memanggangnya”, kata salah satu gembala sapi.

“Saya akan memotong dia menjadi bagian-bagian kecil dan memakannya” kata yang lain.

Mendengar kata-kata yang begitu kasar dari para gembala sapi, kura-kura lupa di mana dia sedang berada kemudian berteriak dengan marah, “Kamu akan makan abu.”

Pada saat dia membuka mulutnya, ia kehilangan genggamannya dan dia pun jatuh terpelanting ke tanah dan langsung disambar oleh gembala sapi kemudian dibunuh.

Angsa-angsa undan dengan sedih melihat kehancuran teman mereka (si kura-kura) dan dengan putus asa mengharap bahwa dia seharusnya mendengar nasihat mereka untuk tidak membuka mulutnya.

Oleh karenanya, nasehat yang baik itu tidaklah ternilai harganya.

oleh G.L. Chandiramani



Dahulu kala, seekor serigala yang sedang mengembara mencari makan di pinggir kota terjatuh ke dalam sebuah tangki kayu yang besar berisi celupan berwarna biru tua.

Semua usahanya untuk keluar dari tangki itu gagal

Pada pagi berikutnya, pada waktu serigala mendengar langkah tukang celup, ia berbaring tanpa bergerak dan berpura-pura seperti mati.

Ketika tukang celup melihat serigala itu, dia benar-benar berpikir bahwa bintang itu sudah mati.

Jadi dia mengangkat serigala itu dan melemparnya ke luar di bawah tanah.

Segera setelahnya, binatang itu tiba-tiba berdiri dan berlari ke sebuah hutan demi keselamatannya.

Pada waktu serigala melihat warna biru tuanya yang baru, dia berpikir,”Saya mempunyai warna yang hebat. Sekarang saya kelihatan lain. Kenapa saya tidak mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya?”

Dia mengundang semua serigala yang lain untuk datang dan berkata kepada mereka, “Dewi hutan ini telah meminyaki badan saya dengan tangannya sendiri. Lihatlah warna saya! Oleh karenanya, mulai hari ini, saya adalah penguasa hutan dan kamu harus mematuhi perintah saya!”

Serigala-serigala melihat warnanya yang aneh dan dengan perasaan hormat bercampur takut serta kagum, menunduk dengan hormat di depannya sambil berkata, “Kita akan persis melakukan seperti apa yang Mulia perintahkan.”

Waktupun berlalu, binatang-binatang lain yang tinggal di hutan menggangap dia seperti raja mereka juga.
Setelah beberapa lama , bahkan singa dan harimau bahkan menjadi pengikutnya.

Hal ini menambah kebanggaan serigala.

Dia menjadi begitu sombong sampai dia menolak untuk mengizinkan serigala-serigala yang bersaudara dengannya untuk menjadi bagian pengiringnya.

Ketika salah seorang saudara serigala yang tua itu menyadari bahwa teman-teman serigala yang lain sedih, dia berkata kepada mereka, “Jangan bersedih.

Kita sangat pintar namun kita juga dihina oleh serigala yang berpura-pura menjadi raja ini. Kalian lihat nanti, dia akan bayar untuk ini.

Singa, harimau dan binatang lain tidak menyadari bahwa dia hanya seekor serigala dan jadinya mereka menerima dia sebagai raja mereka.

Kita harus bertindak agar mereka mengetahui apa yang benar. Saya tahu bagaimana caranya untuk melakukan ini.

Marilah kita berkumpul sore ini dan mulai berseru pada saat yang sama. Raja pasti akan ikut dan berseru, karena memang dia adalah seekor serigala biasa.”

Sore itu, serigala berkumpul dan mulai berseru.

Karena itu adalah sifat pembawaannya, serigala yang berwarna biru tua pun ikut berseru dan petualangannya pun berakhir.

Langsung saja, singa, harimau dan binatang-binatang lain menyadari bahwa mereka telah ditipu. Mereka menyambar serigala itu lalu membunuhnya.

Seekor serigala tua pada saat mendengar tentang berita itu menganggukkan kepalanya dan berkata, “Tidak ada gunanya untuk menipu, karena sesungguhnya kebenaran itu pada akhirnya akan menang.”

oleh G.L. Chandiramani



Pada suatu hari yang bersamaan dengan hari besar Dewa Garuda, raja burung dan semua burung-burung pergi melakukan satu perjalanan ziarah ke tepi pantai.

Dalam rombongan ini ikut pula seekor burung gagak dan burung puyuh yang telah lama berteman.

Di tengah perjalanan, kedua burung itu melihat seorang gembala sapi berjalan di depan mereka dengan sebuah pot penuh dengan dadih yang terbuat dari susu di atas kepalanya.

Burung gagak yang jahat, memang sudah begitu sifatnya, mengikuti orang itu dari belakang dan terus-menerus menaik-turunkan paruhnya ke dalam pot itu dan memakan dadih tersebut.

Pada waktu si gembala sapi menyadari apa yang sedang terjadi, dia berhenti dan menaruh potnya di atas tanah dan kemudian memandang sekelilingnya

Dia melihat seekor burung gagak dan seekor burung puyuh di dekatnya.

Ketika burung gagak melihat ini, dia merasa takut dan langsung terbang jauh. Burung puyuh yang lambat bereaksi ditangkap oleh gembala sapi dan kemudian dibunuh.

Burung puyuh seharusnya tahu bahwa yang paling baik adalah menghindari teman-teman yang buruk sifatnya atau seseorang yang mungkin dapat menyebabkan kesengsaraan.

oleh G.L. Chandiramani



Di satu pohon ara yang besar di luar kota Ujjain, hidup seekor burung bangau yang baik hati dan seekor burung gagak yang jahat.

Pada suatu hari di musim panas, seorang musafir yang lelah karena berjalan di bawah matahari berhenti untuk beristirahat di tempat teduh di bawah pohon ara tersebut.

Dia menaruh busur dan panahnya di dekatnya dan kemudian tidur.

Setelah beberapa waktu, bayangan pohon berpindah, meningalkan muka musafir terbuka ke matahari.

Pada waktu burung bangau yang baik hati melihat ini, dia melebarkan sayapnya untuk melindungi musafir dari matahari.

Burung gagak yang jahat melihat semua ini.

Dia merasa kesal melihat musafir itu tidur dengan tenang. Oleh karenanya, pada waktu dia melihat musafir bangun dan menguap, burung gagak tidak bisa lagi mengendalikan kejengkelannya.

Dia membuang kotorannya langsung ke dalam mulut si musafir dan kemudian terbang.

Dengan perasaan marah, musafir langsung bangun.

Sambil melihat ke atas untuk mencari siapa yang melakukan perbuatan itu, secara kebetulan dia melihat burung bangau.

Dia mengambil busur dan panahnya kemudian membunuh burung bangau.

itu Jika saja burung bangau malang itu mengetahui bahwa teman yang jahat, kerap bisa mendatangkan gangguan dan kesedihan kepada yang baik, maka pasti dia sampai sekarang masih hidup.

oleh G.L. Chandiramani



Pada satu hari, di sebuah hutan hidup sekawanan gajah.
Mereka suka pergi ke kolam di dekat sana untuk menghilangkan rasa haus dan untuk mandi.

Namun suatu ketika, selama satu tahun tidak ada hujan yang turun. Bahkan tidak juga pada musim hujan dan kolam pun akhirnya menjadi kering.

Gajah-gajah mulai merasa sangat haus.

Jadi mereka pergi kepada raja dan berkata “Tuan! Kami merasa sangat haus. Mana bisa kami hidup tanpa air? Apa yang akan kita lakukan? Kemana kita akan pergi?”

Raja gajah membawa mereka ke satu kolam yang bersih dan dalam, tidak begitu jauh dari tempat mereka tinggal.

Hari-hari berlalu, setiap kali gajah-gajah pergi ke kolam, beberapa kelinci terinjak di bawah kaki mereka.

Pada saat salah satu kelinci melihat apa yang terjadi, dia berpikir, “Jika beberapa kelinci mati terinjak setiap kali gajah-gajah mengunjungi kolam, seluruh keturunan kami akan musnah.”

Seekor kelinci tua bernama Vijay berkata, “Jangan khawatir! Saya akan memikirkan sebuah rencana untuk membebaskan diri dari mereka.”

Dengan janji ini, dia pergi untuk berjalan-jalan.

Di tengah perjalanannya, dia berpikir, “Apa yang akan saya katakan kepada gajah-gajah pada waktu saya bertemu mereka? Saya tidak boleh terlalu dekat dengan mereka, atau saya akan dibunuh.

Jadi saya akan naik ke atas bukit dan menyampaikan pesan kepada raja gajah dari sini.”

Dan demikianlah yang dilakukannya.

“Kamu siapa?” dan kamu datang dari mana?” Tanya raja gajah.”

“Saya adalah pesuruh yang dikirim kepada Tuan oleh Dewa Bulan” jawab kelinci.

“Tolong katakanlah kepada kami kenapa kamu datang ke tempat ini ,” k ata raja gajah.

“Seorang pesuruh tidak berbicara apa pun selain kebenaran, bahkan pada saat bahaya pun”, kata kelinci. Inilah apa yang Dewa Bulan katakan kepada kamu, “Kelinci-kelinci ini adalah penjaga danau saya dan mereka diusir atau diinjak-injak sampai mati oleh gajah-gajahmu.

Mereka telah dilindungi oleh saya untuk waktu yang lama. Dengan membunuh mereka, engkau membuat saya marah. Jadi, awas! dan pergi dari situ!”

Setelah Vijay sang kelinci tua mengatakan ini, raja gajah yang sekarang menjadi takut berkata “Ah, ini terjadi tanpa disadari. Hal ini tidak akan terjadi lagi, saya berjanji.”

“Baik kalau begitu”, kata kelinci tua, “kamu boleh pergi dengan tenang, tetapi sesudah kamu memberi hormat kepada Dewa Bulan yang hidup di danau itu dan sekarang dia sedang geram dengan kemarahan yang meluap-luap.”

Pada malam hari, kelinci tua membawa raja gajah ke danau.

Raja memandang ke dalam air dan melihat bayangan bulan yang bergoyang.

Melihat ini, dia berpikir bahwa Dewa Bulan memang sangat marah dengannya. Dia menunduk ke Dewa Bulan dengan rasa takut.

Vijay, si kelinci tua dengan penuh siasat berkata, “Oh Dewa, Dewa Bulan! Raja Gajah tanpa menyadari telah berbuat salah dengan membawa kawan-kawan dia ke danau ini. Maafkanlah dia.

Dia akan membawa pergi semua gajah-gajah dengannya dan dia tidak akan pernah kembali lagi.”

Setelah kelinci selesai berbicara maka raja gajah membawa kawan-kawannya dari sana.

Jadi, seperti yang kalian lihat bahwa si Vijay yang lemah tetapi dengan sedikit kecerdasan, sanggup mengalahkan musuh yang paling kuat.

Kelinci-kelinci itu pun hidup dengan bahagia untuk selama-lamanya.

oleh G.L. Chandiramani



Di kota Hastinapura, hidup seorang tukang cuci bernama Vilasa.

Vilasa mempunyai seekor keledai yang karena mengangkat muatan yang sangat berat, ia akhirnya menjadi lemah dan makin lemah setiap hari.

Kelihatannya keledai itu akan cepat mati, kalau dia tidak mendapat makanan yang bagus.

Untuk memberi makan kepada keledai tanpa harus membayar, tukang cuci menutupi tubuh keledainya dengan kulit harimau dan membiarkan dia berjalan bebas di ladang jagung di dekat sana.

Pada saat pemilik ladang jagung melihat binatang tersebut, dia mengira bahwa binatang itu benar-benar seekor harimau dan karena takut langsung lari. Hal ini dia ceritakan kepada penjaganya dan orang-orang lain tentang apa yang terjadi.

Beberapa hari kemudian, penjaga yang menjaga ladang jagung menutupi dirinya dengan selimut abu-abu. Kemudian ia mengambil busur dan panahnya, lalu bersembunyi serta merangkak-merangkak menunggu harimau itu.

Pada waktu keledai yang memakai kulit harimau yang sekarang sudah menjadi kuat dengan memakan jagung sepuas-puasnya melihat sosok tubuh berwarna abu-abu dari jauh, dia mengira bahwa itu adalah seekor keledai betina.

Sambil meringkik dengan keras, dia berlari ke arah keledai betina itu.
Penjaga dengan cepat menyadari bahwa ini adalah keledai dan bukan harimau dan kemudian membunuhnya tanpa kerepotan.

Dengan senyum puas si penjaga berkata, “Inilah yang terjadi, kalau orang berpura-pura untuk menjadi sesuatu yang palsu.”

oleh G.L. Chandiramani



{19 Juli 2008}   BURUNG GAGAK

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil bertanya, “Nak, apakah benda itu?” “Burung gagak”, jawab si anak.

Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak ayah!”

Tetapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih kuat, “BURUNG GAGAK!!” Si  ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah
mengajukan pertanyaan yang serupa hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang kesal kepada si ayah, “Gagak lah ayah…….”.

Tetapi agak mengejutkan si anak, karena si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah.

“Ayah!!! saya tak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya.   Apa lagi yang ayah mau saya katakan???? “Itu burung gagak, burung gagak ayah…..”, kata si anak dengan nada yang begitu marah.

Si ayah terus bangun menuju ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu ditangannya. Dia menghulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan tertanya-tanya. diperlihatkannya sebuah Diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu”, pinta si ayah. Si anak setuju dan membaca paragraf yang berikut……….

“Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apa itu?”. Dan aku menjawab, “burung gagak”. Walau bagaimana pun, anak ku terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara,  ”Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang sabar serta marah.”

“Jagalah Hati Kedua Orang Tuamu, Hormatilah Mereka. Sayangilah Mereka Sebagaimana Mereka Menyayangimu Diwaktu Kecil”

(Sumber: Anonymous)



Di tepi sungai Godavari, berdiri sebuah pohon yang besar.

Beberapa ekor burung telah mendirikan sebuah sarang di lubang pohon ini dan tinggal di sana dengan bahagia.

Pada suatu hari ketika musim hujan, ketika langit berawan tebal, turun hujan dengan keras.

Beberapa ekor monyet yang berada di sekitarnya menjadi basah kuyup dan lari mencari perlindungan di bawah sebuah pohon.

Mereka menggigil dan merasa sengsara karena kedinginan.

Pada waktu burung-burung melihat ini, mereka merasa sedih terhadap monyet-monyet itu.

Untuk memberi semangat kepada mereka dan untuk membuat mereka merasa lebih baik, burung-burung berkata, “Dengar monyet-monyet! Kami membuat sarang-sarang kami dengan ranting-ranting dan potongan-potongan rumput yang kami ambil dengan paruh kami.

Kalian mempunyai tangan dan kaki, jadi kenapa kamu harus duduk dengan sedih di luar dibawah hujan? Kenapa kalian tidak membuat satu tempat berteduh yang bagus?’

Pada waktu monyet-monyet mendengar ini, mereka merasa sangat marah dan berkata serentak, “Burung-burung ini tidak takut hujan atau angin yang keras. Sambil hidup dengan tenang, mereka mengira bahwa mereka bisa mengkritik kita.

Tunggu saja! Kalau hujan, berhenti, kita akan menghukum mereka!”.

Tidak lama kemudian, hujan berhenti dan monyet-monyet memanjat pohon itu. Mereka memecahkan telur burung-burung itu dan menghacurkan sarang mereka.

Burung-burung yang malang itu menyesali atas perkataan mereka dan merasa bahwa mereka seharusnya tidak memberi nasihat kalau tidak diminta.


oleh G.L. Chandiramani



dan lain-lain